Senin, Januari 10, 2011

Belum maksimal, PT DPL diserbu kapal besar


Sejak Juli 2010 lalu, sudah ada 18 kapal besar yang memanfaatkan jasa
perbaikan milik PT Dok Pantai Lamongan (DPL) di Desa Kemantren/Paciran.
Sampai saat ini PT DPL belum beroperasi secara penuh, namun dok perbaikannya
sudah bisa difungsikan.

“Termasuk dua kapal yang sekerang sedang diperbaiki, sampai saat
ini sudah ada 18 kapal yang memenafaatkan jasa perbaikan di PT DPL, “ ujar
Dirut PT DPL Johanes Titus saat menerima kunjungan Bupati Fadeli kemarin di
Kantor PT DPL. “Sekarang masih tahap uji coba, setelah nanti secara
administrasi, maupun teknis produksi ssudah sempurna, kami akan segera
beroperasi secara penuh, “ imbuh dia.

Fadeli dalam kunjungannya itu didampingi Wakil Bupati Amar
Saifudin bersama sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
terkait. Kunjungan itu dimaksudkan untuk melihat perkembangan investasi di
wilayah pantura Lamongan yang semakin pesat. Saat di PT DPL yang merupakan
bengkel bagi perbaikan kapal yang mengalami kerusakan, ada dua kapal yang
sedang diperbaiki. Yakni dengan nama lambung Bali Gianyar dan Global.

Masih menurut Johanes Titus, perkembangan industri maritim,
dalam hal ini industri pelayaran sangat cepat. Namun jumlah galangan kapal
untuk perbaikan sangat terbatas, sehingga seringkali kapal harus mengantri
untuk melakukan perbaikan. “Selama ini kapasitas kapal dan galangan yang ada
sangat tidak sebanding. Padahalk seperti kapal penumpang tiap tahunnya harus
mengantongi ijin layak laut. Pasar saat ini sangat prospektif, baik untuk
kapal baru maupun untuk yang melakukan perbaikan, “ urai dia.

Karena kedalaman laut tidak memadai untuk menggunakan dok kolam
atau *graving dok*, PTD DPL membangun *sleep way *dok tarik dengan
menggunakan sistem *air bag*. Yakni semacam balon yang dipompa dengan
panjang mencapai 20 meter yang digunakan sebagai bantalan untuk menarik
kapal ke daratan tempat perbaikan. PT DPL saat ini sedang membangun unit *sleep
way* yang kedua di lokasi yang sama.

Disebutkan pula olehnya, Jawa Timur dan Lamongan berpeluang
untuk menjadi kawasan khusus bagi industri maritim. Hal itu terutam karena
di Jatimlah pusatnya SDm kemaritiman. Yakni di ITS serta adanya laboratorium
Hidrodinamika terbesar di ITS, demikian pula design centre perkapalan juga
ada di Jatim.

Karena semuan proses perbaikan dilakukan di darat mulai dari proses
pengelasan dan pengecatan, limbah yang dihasilkan PT DPL merupakan limbah
yang dapat didaur ulang. Limbah yang dihasilkan seperti besi, potongan plat
dan minyak semuanya dapat didaur ulang.

Selengkapnya......

Peluang Usaha Pengolahan Ikan di LamonganTerbuka Lebar


Penluang usaha pengelolaan Ikan tangkap di Lamongan Masih Terbuka Lebar. Karena saat ini, dari sekitar 64 ribu ton produksi ikan tankap setiap tahunnya, baru sejumlah 20 ribu ton yang diolah. Sementara sisanya dijual nelayan tanpa melalui proses pengolahan.
Saat ini di kawasan pantura Lamongan mulai beridiri dan beroperasi perusahaaan yang bergerak di bidang usaha pembekuan ikan atau cold storage. Mulai tahun 2010 lalu, PT Baharau Biru Nusantara (Baruna) sudah mulai berproduksi. Ikan beku yang mereka olah sudah mencapai 3000 ton.
“Kami mengolah hampir semua jenis ikan tangkap. Sesuai dengan pesanan konsumen. Tahun lalu, ikan yang diproses mulai dari jenis kakap, tonang, swangi hingga jenis ikan kuniran. Ikan hasil olahan itu kami kirimkan ke konsumen kami di berbagai Negara, diantaranya China, Taiwan, Korea dan Amerika Serikat, “ ujar Manajer Umum PT Baruna Lismanto kemarin di kantornya seusai menerima kunjungan Bupati Lamongan Fadeli
Disebutkan olehnya, bahan baku produknya yang diambil dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong mencapai 85 persen. Sementara sisanya baru diambilkan dari daerah lain. Demikian pula dengan tenaga kerja, sebagain besar diambilkan dari masyarakat sekitar perusahaan yang berlokasi di Kecamatan Brondong tersebut.
Ditambahkan Oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan setempat Mustakim Arif, masih terbuka peluang lebar untuik investor lain masuk di sektor usaha pengolahan ikan tangkap. “Setiap tahunnya, nelayan Lamongan sanggup membawa pulang sekitar 64 ribu ton ikan. Dari jumlah tersebut, yang diolah lebih lanjut baru sekitar 20 ribu ton. Sisanya langsung dijual oleh nelayan di TPI Brondong, “ urai dia.
Potensi perikanan darat Lamongan juga masih sangat terbuka untuk dikembangkan. Tiap tahunnya dihasilkan sekitar 30 ribu ton ikan berbagai jenis. Saat ini yang menjadi primadona adalah udang vannamae yang memiliki peluang ekspor. Tahun 2008 lalu, ada sekitar tiga ribu kilogram udang vannamae Lamongan yang diekspor.



Selengkapnya......

Jumat, Januari 07, 2011

Puting beliung ngamuk, 3 desa ludes


Bencana alam kembali terjadi di Kabupaten Lamongan. Kali ini angin punting beliung atau lesus menghantam dan meluluhlantakkan rumah-rumah warga di 3 Desa yang ada di Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan, (Minggu, 2/1). Kondisi terparah dialami di Desa Manyar.
Bupati Lamongan Fadeli dan Wakil Bupati Amar Saifudin sempat meninjau lokasi bencana Senin pagi (3/1). Turut mendampingi Camat Sekaran Yaslikan beserta jajarannya, pimpinan SKPD terkait Kabupaten Lamongan dan Direktur rumah sakit Dr. Soegiri Lamongan.

Camat Sekaran Yasikan, menyatakan, angin lesus yang menerjang Desanya terjadi pada kemarin siang pada pukul 13.00 disertai dengan hujan dan berlangsung cukup lama sekitar 15 menit. Sementara itu keadaan terparah terjadi di Desa Manyar, sebanyak 18 rumah roboh dan 134 rusak parah. “Kebanyakan atap atau genteng mereka hancur berantakan tersapu angin, sisanya malah ada yang tidak berbentuk sama sekali alias rata dengan tanah,” katanya.

“Alhamdulilah korban jiwa meninggal tidak ada, namun kejadian tersebut sempat melukai 3 warga kami, 1 orang mengalami patah tulang terhimpit bangunan yaitu Saminten dan luka sedang dialami Kasmuri dan Kastinah, rata-rata mereka sudah berusia lanjut dan tidak sempat menyelamatkan diri, dan korban luka-luka tersebut sementara dibawa ke tempat pengobatan alternatif sangkal putung karena lokasi Desa kami memang jauh dari pusat kesehatan,” ujarnya.

Yasikan menambahkan, selain Desa Manyar, angin lesus juga menerjang Desa lain yang masih berada dalam batas wilayah kekuasaannya itu, yaitu Desa Jugo dan Desa Kudikan. “Kedua Desa juga mengalami kerusakan materi tapi tidak separah seperti yang dialami di Manyar, setidaknya Desa Jugo 10 rumah rusak sementara Desa Kudikan 14 rumah yang rusak, total kerugian yang dialami warga kurang lebih 500 juta rupiah,” pungkasnya.




Sementara itu, Fadeli mengatakan, pada akhir tahun 2010 sampai dengan awal tahun 2011 bencana masih mengintai tidak hanya di Lamongan saja tapi juga di seluruh nusantara. Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat supaya terus waspada dan yang penting cintai lingkungan dan jangan sampai merusaknya. “Kita harus tetap bersyukur bencana yang terjadi di Sekaran tidak sampai menimbulkan korkan jiwa,” katanya.

Disinggung mengenai dana bantuan yang dikucurkan oleh Pemerintah, Fadeli mengatakan, sebanyak 15 juta rupiah diserahkannya langsung kepada Camat Sekaran Yasikan, dan disaksikan beberapa pejabat setempat yang hadir. “Pemerintah akan selalu mengupayakan bantuan dalam bentuk lain,” pungkasnya. Tampak dari unsur TNI AD, Polisi, Pol PP, dan beberapa organisasi kemanusiaan saling bahu membahu membantu memperbaiki yang rusak.

Selengkapnya......